Ketahui beberapa gejala yang terjadi pada malnutrisi energi protein berikut ini.

Dalam kasus kondisi tersebut, kandungan makanan seperti makanan yang tinggi kalori atau lemak dan rendah nutrisi, dapat meningkatkan risiko terhadap malnutrisi energi protein. Misalnya jika terlalu banyak mengonsumsi makanan yang digoreng dan mengandung gula. Sehingga resiko yang akan terjadi munculnya beberapa gejala malnutrisi energi protein. Dikarenakan seseorang yang kekurangan asupan makanan (undernourished) biasanya tidak mendapatkan vitamin dan mineral, terutama zat besi, seng, vitamin A dan yodium. Mikronutrien juga dapat terjadi karena kelebihan nutrisi, tanpa adanya asupan vitamin dan mineral secara cukup, pada saat yang bersamaan. Berikut beberapa gejala beserta jenisnya yang dapat kita ketahui bersama, sepertihalnya:

  1. Kekurangan nutrisi (undernutrition), biasanya memiliki gejala sepertihalnya:
  2. Penurunan berat badan
  3. Kehilangan lemak dan massa otot
  4. Pipi cekung dan mata cekung
  5. Perut bengkak
  6. Kulit kering dan rambut rontok
  7. Kelelahan
  8. Kesulitan berkonsentrasi
  9. Mudah kesal
  10. Depresi dan cemas

Selain itu, kekurangan nutrisi juga dapat menyebabkan defisiensi mikronutrien. Beberapa kekurangan paling umum dari gejala malnutrisi energi protein adalah sebagai berikut.

  • Kekurangan vitamin A: mata kering, rabun senja, peningkatan risiko infeksi
  • Kekurangan seng: kehilangan nafsu makan, pertumbuhan terhambat, penyembuhan luka lama, rambut rontok, diare
  • Kekurangan zat besi: gangguan fungsi otak, masalah perut dan suhu badan
  • Kekurangan yodium: pembesaran kelenjar tiroid, penurunan produksi hormon tiroid, masalah pertumbuhan dan perkembangan.

Beberapa permasalah kekurangan nutrisi yang beresiko parah, bahkan dapat meningkatkan risiko kematian.

  • Kelebihan nutrisi (overnutrition)

kelebihan berat badan atau obesitas merupakan tanda utama dari suatu kelebihan nutrisi tersebut. Berdasarkan beberapa penelitian, seseorang dengan kelebihan berat badan atau obesitas ternyata lebih cenderung kekurangan asupan vitamin dan mineral sehingga dapat dengan mudah mengalami darah rendah, dibandingkan dengan seseorang yang memiliki berat badan normal. Selain itu, seseorang dengan kondisi obesitas, pada umumnya ternyata memiliki kadar vitamin A dan E dalam darah yang 2-10% lebih rendah dibandingkan dengan seseorang yang memiliki berat badan normal.[1]

“dilansir dari laman Honestdocs” setelah kita mengetahui beberapa gejala malnutrisi energi protein tersebut. berikut kita ketahui jenis-jenis dari malnutrisi energi protein (MEP). Berikut pembagiannya.

  • MEP ringan

MEP atau malnutrisi energi protein tingkat rendah, biasa disebut juga dengan kata lain kurang gizi. Kondisi tersebut ternyata banyak ditemui pada seseorang yang ingin menurunkan berat badan namun tidak menganut diet sehat.  

  • MEP berat

MEP tingkat tinggi merupakan suatu kondisi kekurangan asupan gizi yang tergolong buruk. Kebanyakan pada kasus tersebut, gizi buruk sering terjadi pada anak-anak yang berkembang di lingkungan yang kurang layak, sepertihalnya yang terjadi pada negara miskin atau daerah konflik. Kondisi tersebut akan menghambat tumbuh kembang anak bahkan sangat berpengaruh baik secara fisik maupun mental.  Gizi buruk terbagi menjadi:

  • Marasmus merupakan suatu kondisi gizi buruk yang sangat parah dimana tubuh kekurangan asupan karbohidrat, protein dan lemak, dan zat-zat gizi lainnya.  Penderita ini biasanya memiliki gejala yang cukup mudah dikenali yaitu berad badan yang sangat kecil pada sipenderita.  Gejala lainnya merupakan warna rambut kepirang-pirangan mirip warna rambut jagung dan juga kulit yang berkerut. Perlu kita ketahui juga, tulang tubuh pada penderita marasmus ini ternyata juga akan terlihat lebih menonjol.
  • Kwashiorkor Jika marasmus merupakan adalah suatu kondisi dimana tubuh kekurangan karbohidrat. maka kwashiorkor merupakan gizi buruk akibat rendahnya jumlah protein yang masuk dalam tubuh.  Berbagai tanda yang ditunjukkan oleh sipenderita yang  mengalami malnutrisi energi protein jenis kwashiorkor antara lain perut yang terlihat buncit tetapi tubuh kurus (busung lapar), dan terlihat pada rambut mudah rontok, muncul bercak kecokelatan pada kulit dan juga tubuh anak seperti membengkak.  Terjadinya gejala pembengkakan pada tubuh dalam kwashiorkor yang ternyata dalam hal ini disebabkan oleh adanya penumpukan cairan atau edema dan juga lemak pada tubuh.  Walaupun MEP mudah terlihat kasatmata namun pengukuran lebih detil seperti massa tulang dan otot, lingkar pinggang ternyata juga dapat menjadi tolak ukur apakah seseorang tersebut dapat dipastikan menderita MEP. 
Sumber: Alodokter.com



[1] Sumber Referensi Sehatq.com

Uncategorized

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*